Pengasuhan Ramah Anak Bagian 2

Survei Komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2012, dari 1.026 anak yang disurvei, 38% anak mengaku sering mengalami kekerasan oleh ibunya, 35% oleh ayah, sisanya oleh saudaranya. Setelah dikon!rmasi, mayoritas orangtua mengaku tidak mengetahui bahwa yang dilakukan tergolong kekerasan, pelanggaran hukum, dan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Ketiga, dampak dari kon!ik keluarga. Perbedaan cara pandang dalam keluarga tak jarang memicu persoalan, hingga berdampak negatif pada anak.

Posisi anak yang tidak mengetahui duduk masalahnya justru menjadi objek ekspresi kekesalan dengan pasangan. Kondisi ini menunjukkan betapa anak merupakan makhluk yang rentan menjadi korban kekerasan, meski oleh orang terdekat sekalipun. Padahal hakikat orangtua merupakan pelindung utama bagi anak namun yang terjadi tanpa disadari telah menjadi pelaku kekerasan. Keempat, disfungsi keluarga. Orangtua memiliki peranan vital bagi tumbuh kembang anak.

Namun faktanya tak sedikit orangtua yang hanya menjalankan sebagian fungsi sehingga mengabaikan fungsi vital lainnya. Posisi ibu dan ayah yang seyogianya menjadi pelindung, pemenuh dan !gur yang ramah bagi anak, justru sering tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Delegasi tugas kepada pengasuh dan pembantu terlalu besar tanpa kontrol berarti dari pasangan ayah ibu. Orangtua sering mudah menyalahkan anak dan berujung kekerasan, sebagai akibat dari minimnya memahami keunikan yang ada pada diri anak.

Keaktifan anak dianggap masalah, pertanyaan yang muncul dari anak dianggap tak sopan, bahkan pandangan anak yang berbeda dengan mainstream terhadap suatu masalah diposisikan sebagai seharusnya. Kondisi ini biasanya akibat dari kecenderungan orangtua hanya berfokus pada layanan material, namun hubungan psiko-sosial antara ayah ibu dengan anak tergerus oleh kesibukan rutin yang tak berujung, tanpa menyisakan waktu bercengkerama, berbagi rasa, berdialog dan liburan bersama anak-anak tersayang.

Kelima, faktor ekonomi. Ada relasi antara tingkat ekonomi dengan perilaku kekerasan terhadap anak. Gelles (Olson & DeFrain, 2003) berpendapat bahwa keluarga yang memiliki pendapatan rendah berpotensi terjadi kekerasan dalam keluarganya. Kemiskinan merupakan stresor kuat memungkinkan terjadinya kekerasan. Faktor kemiskinan, tekanan hidup yang semakin meningkat, dan ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orangtua mudah meluapkan emosi pada anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *