Monthly Archives: April 2020

Dari TV Sampai HDTV Bagian 2

Perancis sendiri memulai sistem pertama pada tahun 1949 yang saat ini dikenal standar modern sebagai HD, yaitu sistem 819 Line dengan resolusi hampir sama dengan resolusi 720i aktual. Selama diuji, penemunya René Barthélemy bahkan meningkatkan resolusinya menjadi 1.042 Line, hampir sama dengan Full HD. Sampai tahun 50-an, belum ada perangkat yang lossless menampilkan gambar HD. Sistem 819 Lines masih dipakai sampai tahun 1983.

AS memulai program HD pertama pada tahun 1953, tampil dalam format warna. Mendukung 525 Lines, diantaranya 480 Lines visible. Sistem NTSC yang diperkenalkan pada tahun 1941 ini masih belum beresolusi tinggi dibandingkan saat ini. Pada tahun 1963 Telefunken mengembangkan sistem warna PAL. Sistem ini berperan bukan karena warnanya melainkan karena telah menggunakan standar 626 Lines. Tayangan pertama dimulai pada tahun 1967 di Jerman. HDTV pertama dalam format widescreen dan warna dikembangkan oleh stasiun TV NHK Jepang pada tahun 1979.

Sistem analog 1.125 Lines tersebut masih memerlukan waktu satu dekade, sampai akhirnya dioperasikan reguler dengan brand HiVision pada akhir tahun 1994. Namun pada tahun 2007 akhirnya dihentikan. Awal bagi HDTV modern di Eropa dimulai dengan standar DVB (Digital Video Broadcasting) pada pertengahan tahun 90-an. Meskipun demikian baru tanggal 1 Januari 2004, stasiun TV Belgia HD1 menayangkan The New Year’s Concert of the Vienna.

Dari TV Sampai HDTV

TV resolusi tinggi tidak dimulai sejak ajang Olimpiade 2010. Program HD pertama ternyata sudah ada sejak 70 tahun sebelumnya. Tayang 10 jam dalam seminggu. Begitulah kondisi awal tayangan reguler TV di tahun 30-an. BBC memulai tayangan tersebut sejak 2 November 1936 dan merupakan program HDTV pertama secara reguler. High Definition di era ini masih mendukung resolusi 405 lines dan 377 diantaranya dipakai untuk menampilkan gambar. Gambar berwarna belum dikenal saat itu.

Dari kacamata saat ini memang sedikit menyedihkan, namun beberapa tahun sebelumnya perangkat TV mekanis hanya menampilkan resolusi tak lebih dari 30 Lines. Sistem 405-Lines, yang juga dikenal sebagai Marconi-EMI-System, merupakan sistem TV pertama yang beroperasi reguler full-electronic. Untuk menghindari gambar flicker, digunakan sistem Interlacing. Di sini, 2 halfframe gambar ditampilkan secara bergantian sebanyak 50 kali per detik sehingga menghasilkan sekuen gambar penuh (full frame) dengan 25 gambar per detik.

Awalnya, gambar ditampilkan dalam format 5:4, kemudian BBC menggantinya menjadi format 4:3. Sistem 405 Lines masih tetap dipakai sampai tahun 1985. Namun selama Perang Dunia ke-2, tayangannya sempat dihentikan. Setelah masa perang negara-negara Eropa sepakat menetapkan sistem 626 Lines dengan resolusi yang lebih tinggi yang dikembangkan di Rusia, 576 Lines diantaranya visible dan saat ini dikenal dengan Standard Definition (SD). Terkecuali Inggris dan Perancis.

Menaksir Harga Hunian Di Kawasan Langganan Banjir Bagian 2

Biar Banjir Tetap Bersinar

Kawasan Kelapa Gading, Pulomas, dan Sunter, Jakarta Utara, menjadi bukti bahwa semakin tinggi air menggenang, semakin tinggi pula harga tanahnya. Dilansir dari Kompas. com, David Tjandra, Principal Ray White Kelapa Gading mengungkapkan alasan Kelapa Gading dan sekitarnya tetap bersinar meski kerap dirundung banjir adalah karena kawasan ini merupakan kota dalam kota.

Baca juga “ Jual Genset Jakarta

Berbagai fasilitas penunjang penghuni kawasannya sudah lengkap tersedia, mulai dari fasilitas pendidikan, olahraga, sosial, hiburan, hobi, bisnis, hingga fasilitas lainnya. Selain itu, kawasan tersebut pun terbilang strategis dengan aksesbilitas memadai, dapat diakses melalui tol dalam kota. Ricky (35), salah seorang karyawan swasta yang berhuni di kawasan Kelapa Gading, pun membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, di kawasan Kelapa Gading, semua kebutuhan keluarganyasudah terpenuhi mulai dari pendidikan hingga hiburan. Tidak heran, kawasan ini tetap dicari meski banjir tak pernah absen bertandang. Bila Anda tinggal di kawasan langganan banjir, tetapi memiliki fasilitas memadai dan lokasi yang strategis, jangan ragu untuk mematok harga hunian sesuai dengan harga pasaran saat itu.

Namun, sebelum Anda menjualnya, pastikan hunian Anda layak huni dan memiliki kesan visual yang menarik. Yang tidak kalah penting, jika Anda ingin pindah dari daerah banjir, Anda harus mencermati daerah tujuan. Jangan sampai, dari lokasi banjir pindah ke lokasi banjir lagi. Dan, musim hujan ini adalah saat yang tepat bagi Anda mendeteksi apakah wilayah yang Anda incar termasuk kawasan banjir atau tidak.

Menilai Harga Rumah

Eko Waluyo, Division Head Corporate Secretary Division Bank BTN, mengungkapkan secara teknis pihak konsultan penilai (pihak appraisal) biasanya menggunakan beberapa metode penilaian dalam menentukan harga jual rumah. Yang paling populer adalah metode replacement cost yakni, penentuan harga yang didapatkan bila konsumen melakukan aksi bangun ulang pada rumahnya dan metode berdasarkan transaksi pasar saat itu. Bank pun demikian.

Selain menggunakan jasa konsultan penilai, bank sudah mengantongi database yang berisi data-data seputar harga jual properti di setiap kawasan. Data tersebut didapatkan dari berbagai sumber, salah satunya dari hasil deal transaksi yang terjadi di kawasan tersebut. “Setiap deal transksi itu kan mencerminkan berapa harga pasar yang sesungguhnya dikenakan. Setelah didapatkan harga tanahnya, selanjutnya tinggal mengalikan harga tanah/bangunan saat ini sesuai dengan luasan per meternya,” ujar Eko menjelaskan.

Menaksir Harga Hunian Di Kawasan Langganan Banjir

Harga rumah di kawasan yang kerap dilanda banjir memang tak bisa diprediksi. Di beberapa kawasan, harga rumah cenderung stagnan bahkan terperosok. Tapi, di beberapa area lainnya justru semakin melambung. “Setiap awal tahun kami pasti sudah siap siaga. Banjir pasti datang lagi, semua barang sudah kami pindahkan ke lantai 2,” ucap Ludo, karyawan yang tinggal di kawasan Ciledug, Tangerang. Kata kata itu terucap begitu saja ketika ditanya terhadap persiapannya untuk menghadapi banjir langganan di tahun ini.

Baca juga “ Jual Genset Bali

Lalu mengapa tidak pindah saja? Beginilah jawaban pria berusia 25 tahun ini. “Sudah kerasan tinggal di sini. Lagian mau dijual berapa rumahnya, ada yang mau beli rumah di daerah langganan banjir gini? Yang ada, justru kita yang enggak dapat rumah pengganti,” ucapnya diselingi canda. Ya, Ludo mungkin satu dari segelintir orang yang tinggal di kawasan langganan banjir tapi enggan untuk pindah karena khawatir harga jualnya akan terjun bebas. Pemikiran tersebut sayangnya berlawanan dengan fakta yang terjadi di lapangan. Fakta menunjukkan harga rumah setiap tahunnya tidak pernah mengalami penurunan.

Harga Belum Tentu Turun

Eddy Ganefo, pakar properti sekaligus Ketua Umum APERSI (Asosiasi Permukinan dan Perumahan Seluruh Indonesia) mengatakan harga tanah di suatu kawasan tidak akan mengalami penurunan. Hal tersebut sudah terbukti dari tahun ke tahun. Hanya saja, kasusnya akan berbeda dengan hunian yang berada di kawasan langganan banjir. Harganya tetap naik, tetapi cenderung lebih rendah atau justru mandek dari kawasan di sekitarnya yang tidak terkena banjir.

Perkara harga, ia tak bisa menaksir berapa penurunan harga tepatnya. “Pasti akan lebih rendah dari kawasan sekitarnya. Harganya tidak bisa diprediksi karena harus melihat harga rumah di sekitar kawasan tersebut,” ucap Eddy. Hal serupa diungkapkan Eko Waluyo, Division Head Corporate Secretary Division Bank BTN. Ia mengatakan bahwa harga hunian di kawasan banjir memang cenderung stagnan, tetapi tak mungkin turun.

Untuk rumahrumah berskala besar mungkin akan ada promo menarik yang biasanya diberikan oleh pemilik rumah atau agen yang ditunjuk. Namun, untuk rumah kecil, sebut saja rumah subsidi, harganya cenderung jalan di tempat. “Harga rumahnya sudah murah, jadi tidak mungkin diberi diskon atau semacamnya, hanya mungkin jalan di tempat,” ujarnya.